Rajut Warisan Nenek

10 Dec 2013

Rajut Warisan Nenek

Rajut Warisan Nenek

Tahun 80 an ketika saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar banyak hal yang bisa saya dapatkan melalui pembelajaran tentang kesederhanaan hidup, tinggal dan dibesarkan oleh nenek seorang janda pensiunan PNS yang tidak besar dalam menerima per bulannya. Kegiatan sehari-hari nenek banyak di isi oleh kreativitas kerajinan tangan seperti menyulam, rajut tanpa menggunakan mesin alias memakai hakpen, membuat gambar pesanan seperti gambar mesjid, gereja, bunga, binatang dan lain-lain yang terbuat dari kain bordel dengan benang woll.

Semua beliau lakukan untuk mengisi waktu nya di saat usia tidak produktif lagi untuk bekerja di luar dan sebagai tambahan keuangan untuk membiayai keenam anaknya dan kedua cucu yang tinggal bersamanya. Meskipun hidup sangat sederhana namun saya merasa bersyukur bisa hidup dengan seseorang yang telah mengantarkan saya hingga saya seperti sekarang ini. Kebersamaan kami cukup tajam kuat melekat dalam memori ketika kami sama-sama berjuang mencari rupiah untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Bersama Opung

Bersama Opung

Nenek bagi saya adalah sosok Hero, Wonder Women bagi keluarganya tulang punggung kami setelah kakek meninggal dunia. Sosok wanita yang smart, penuh dengan ide kreatif dan emak-emak yang gaul hingga bisa menjaring seabrek pesanan handmade nya.

Keseharian nenek bersama anak dan salah satu mantu nenek serta kedua cucunya yang selalu mengganggu saat nenek sedang membuat pesanan gambar. Kami berkumpul di teras belakang beralaskan tikar dengan ditemani radio kesayangan yang menyiarkan dongeng Uwa Kepoh yang terkenal pada era tahun 80-an. Awalnya saya acuh tak acuh pada kerajinan handmade, baru tersadar ketika teman sekelas saya memakai tas dari rajut yang kelihatannya bagus dan cantik.

Ketika saya pulang ke rumah saya merengek minta di belikan tas rajut yang saya inginkan, saya menceritakan pada nenek dengan detail tas rajut yang di buat dengan benang rajut berwarna putih. Tanpa panjang lebar nenek sepertinya sudah faham dengan tas yang saya maksud, beliau seketika berkata dengan nada halus, sabar ya, bukannya nenek tidak mau membelikan tas itu tetapi nenek janji suatu saat nenek akan bikinkan kamu tas seperti yang kamu mau. Dengan kondisi anak se-usia SD saya cukup mengerti dengan keadaan dan saya hanya menganggukan kepala sebagai pertanda setuju.

Ikat Rambut Rajut Gaul

Ikat Rambut Rajut Gaul

Satu belum terpenuhi bisikan hati anak yang tidak tahu diri ini kembali merengek minta ikat rambut yang di buat dari rajut juga. Waktu itu nenek sedang repot juga mengerjakan pesanan buat hiasan kursi yang buat di pasang untuk posisi sandarannya, kali ini nenek tidak berjanji membuatkan untuk saya tetapi beliau langsung mengajarkan saya dengan peralatan seadanya dengan menggunakan karet gelang sebagai pengikatnya.

Saya dilatih sekali tanpa berulang-ulang apalagi banyak bertanya semua saya kerjakan dengan kreasi saya sendiri bagaimana caranya supaya rajutan bisa membentuk bunga, pastinya dengan mencoba-coba tidak takut salah karena namanya juga belajar dan akhirnya saya sampai bisa membuat ikat rambut sendiri.

Oiya karena kesibukan nenek dengan membanjirnya pesanan kerajinan tangan, akhirnya tas yang saya impikan sejak SD akhirnya bisa terwujud ketika saya mulai memasuki bangku SLTP, huaaacukup lama juga sih penantiannya tetapi saya maklum dan tetap masih bangga karena bisa memakai tas rajut buatan nenek. Selagi kita mampu berkarya dan bisa kenapa tidak? Berkarya adalah kebanggan tersendiri, Salam Kreatif.***


TAGS kreatif gaul smart ikat rambut rajut gaul rajut warisan nenek


-

Author

Follow Me