Pak Kumis Berbicara Disiplin

19 Dec 2013

Sore menjelang adzan maghrib berkumandang terdengar sayup-sayup suara kencang dan lantang dari sosok pria paruh baya, sontak membuatku kaget karena suara yang terdengar sangat khas dan tidak asing ditelinga. Bapak dengan dua anak laki-laki yang mempunyai sosok kharismatik berperangai terlihat sangar dengan kumis tebal dan kulit kelam, kami para tetangga menyebutnya pak kumis.

Kami tidak aneh dengan gaya bicaranya yang keras dan lantang kalau berbicara seperti ngajak berantem tapi itu hanya tabiatnya saja dan memang bawaan lahir yang sangat pas dengan karakter wajahnya yang terlihat sangar, tapi menurut istrinya pak kumis adalah sosok pemimpin keluarga yang baik dan sayang sama keluarganya.

Sore itu karena gorden rumah rumah belum ditutup, terlihat salah satu dari anak pak kumis yang sedang berlarian mengitari pekarangan rumahnya yang luas sambil telanjang dada seperti tentara yang sedang berlatih sedangkan pak kumis mengamati anaknya yang sedang dihukum dari depan pekarangan rumahnya dengan sesekali berteriak ketika anaknya mulai cape.

Setelah anaknya menyelesaikan hukuman lari lalu anaknya disuruh berdiri diatas bak yang didalamnya pompa air yang tertutup padat hingga bisa dipijak. Lalu pak kumis menatap anak tersebut dan melempar senyum sambil bertanya, dingin nak? Iya dingin pak jawab anak tersebut lalu diraihnya ember yang berisi air dan byurrdiguyurkannya air tersebut pada tubuh anaknya yang sudah merasa kedinginan, kejadian itu terus berulang sampai tiga kali baru hukuman selesai.

Saya baru tahu cerita ini langsung dari pak kumis setelah beberapa hari dari kejadian ketika petang menjelang saat kami saat berdiskusi tentang kegiatan komplek yang rutin diadakan seminggu sekali. Sore itu saya menanyakan kejadian beberapa hari lalu tentang kejadian itu. Pak kumis menceritakan di sela dengan senda gurau dan tawa ketika menjelaskan cara beliau menerapkan disiplin lewat memperlakukannya dengan cara malu, ya mempermalukan mereka seperti maling karena mereka menurut gua adalah maling waktu, ujar pak kumis dengan suara bernada kencang.

Kedua anak pak kumis ini satu masih duduk di bangku SLTP dan yang satu lagi masih SMU, ketika saya menyela obrolan pak kumis kan mereka anak laki-laki pak, pulang sedikit telat ga apa apa kali langsung obrolan saya di berhentikan seketika lhotidak ada bedanya biar dia cowok atau cewek disiplin harus tetap diterapkan, seenaknya saja dia pulang sekolah langsung main tidak tahu waktu tanpa ada tanggung jawab sebagai anggota keluarga yang harus patuh pada peraturan rumah, kecuali dia sudah bisa hidup mandiri dan punya rumah sendiri itu lain ceritanya ujar pak kumis dengan nada bicara sedikit ngos-ngosan karena menahan nafas.

Saya mendidik anak tidak dengan cara kekerasan fisik tapi lewat cara mempermalukan, saya harap mereka bisa kapok karena takut dipermalukan di depan umum sambung pak kumis melanjutkan pembicaraan, sebut saja namanya Aldo dan Aldi mereka di kasih kelonggaran sampai tiga kali kesalahan pelanggaran waktu, Aldo sudah punya dua kali kesalahan dan Aldi baru satu kali kesalahan karena pulang tidak tahu waktu dan kalau mereka sudah mencapai tiga kali kesalahan, pak kumis ini tidak segan-segan untuk memberi ultimatum ketika hukuman diberikan dengan bugil hanya memakai pakaian dalam saja untuk berlari mengelilingi halamannya yang luas dan letaknya persis di pinggir jalan. Hemm..bagaimana menurut anda?

Mungkin dari sebagian orang ada yang tidak setuju dengan cara pak kumis diatas karena dianggap sudah mempermalukan anak sendiri, tetapi perlu kita ketahui juga baik dalam hal kecil atau hal besar dengan yang sadar atau tanpa disadari mungkin kita juga pernah mempermalukan orang tua dengan kelakuan kita diluar batas, itu juga sama saja kita menelanjagi orang tua secara tidak langsung.

Dari kesimpulan cerita di atas menurut saya, orang tua mempunyai hak penuh atas mendidik anak dengan cara nya masing-masing selama itu dalam batas kewajaran dan tidak mempengaruhi dampak psikologi anak tersebut. Tidak mudah memang dalam hal mendidik anak, banyak orang tua yang gagal untuk mengantarkan anaknya untuk menjadi pribadi yang baik dan bertanggung jawab minimal buat dirinya sendiri.

Menerapkan disiplin sejak dini memang sangat penting agar anak bisa terbiasa dengan pola hidup yang teratur, dengan disiplin yang kuat tertanam pada anak maka si anak akan menjadi pribadi yang berkarakter dan terarah tujuan hidupnya. ***


TAGS disiplin pak kumis mendidik anak


-

Author

Follow Me